Sabtu, 30 Juli 2011

Asfiksia neonatorum


I.            PENGERTIAN

  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar, 1989)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001)
Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).
II.            JENIS ASFIKSIA
Ada dua macam jenis asfiksia, yaitu :
1. Asfiksia livida (biru)
2. Asfiksia pallida (putih)

III.            KLSIFIKASI ASFIKSIA
Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10


IV.            ETIOLOGI
Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
1.  Asfiksia dalam kehamilan
a.    Penyakit infeksi akut
b.   Penyakit infeksi kronik
c.    Keracunan oleh obat-obat bius
d.   Uraemia dan toksemia gravidarum
e.    Anemia berat
f.    Cacat bawaan
g.    Trauma
2.      Asfiksia dalam persalinan
a. Kekurangan O2.
Ø  Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)
Ø  Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke uri.
Ø  Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
Ø  Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
Ø  Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
Ø  Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
Ø  Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
b. Paralisis pusat pernafasan
Ø  Trauma dari luar seperti oleh tindakan forceps
Ø  Trauma dari dalam : akibat obet bius.
Penyebab asfiksia Stright (2004)
1.   Faktor ibu, meliputi amnionitis, anemia, diabetes hioertensi ynag diinduksi oleh kehamilan, obat-obatan iinfeksi.
2.   Faktor uterus, meliputi persalinan lama, persentasi janin abnormal.
3.   Faktor plasenta, meliputi plasenta previa, solusio plasenta, insufisiensi plasenta.
4.   Faktor umbilikal, meliputi prolaps tali pusat, lilitan tali pusat.
5.   Faktor janin, meliputi disproporsi sefalopelvis, kelainan kongenital, kesulitan kelahiran.
V.            MANIFESTASI KLINIK
1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
a.       Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
b.      Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
c.       Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
2. Pada bayi setelah lahir
a.       Bayi pucat dan kebiru-biruan
b.      Usaha bernafas minimal atau tidak ada
c.       Hipoksia
d.      Asidosis metabolik atau respiratori
e.       Perubahan fungsi jantung
f.       Kegagalan sistem multiorgan
g.      Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.
VI.            PATOFISIOLOGI
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.
VII.            KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG MUNCUL
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
1. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
2. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
3.      Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
4.      Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

ASUHAN KEPERWATAN
PADA BAYI DENGAN ASFIKSIA
A.    PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Ø  Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
Ø  Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
Ø  Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
Ø  Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena
2. Eliminasi
    Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
Ø  Berat badan : 2500-4000 gram
Ø  Panjang badan : 44-45 cm
Ø  Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
1.      Neurosensori
Ø  Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
Ø  Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
Ø  Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
2.      Pernafasan
Ø Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
Ø Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
Ø Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
3.      Keamanan
Ø  Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi).
Ø  Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal)
B.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
2.      Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
3.      Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigen-antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.
C.     PRIORITAS KEPERAWATAN
1.      Meningkatkan upaya kardiovaskuler efektif.
2.      Memberikan lingkungan termonetral dan mempertahankan suhu tubuh.
3.      Mencegah cidera atau komplikasi.
4.      Meningkatkan kedekatan orang tua-bayi.


D.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
2.      Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
3.      Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
4.      Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
5.      Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
6.      Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
E.     INTERVENSI
DP I. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan jalan nafas lancar.
NOC I : Status Pernafasan : Kepatenan Jalan Nafas
Kriteria Hasil :
1.      Tidak menunjukkan demam.
2.      Tidak menunjukkan cemas.
3.      Rata-rata repirasi dalam batas normal.
4.      Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.
5.      Tidak ada suara nafas tambahan.
NOC II : Status Pernafasan : Pertukaran Gas
Kriteria Hasil :
1.      Mudah dalam bernafas.
2.      Tidak menunjukkan kegelisahan.
3.      Tidak adanya sianosis.
4.      PaCO2 dalam batas normal.
5.      PaO2 dalam batas normal.
6.      Keseimbangan perfusi ventilasi
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Suction jalan nafas
Intevensi :
1.      Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
2.      Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction .
3.      Beritahu keluarga tentang suction.
4.      Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai dilakukan.
5.      Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan sesudah suction.
NIC II : Resusitasi : Neonatus
1.      Siapkan perlengkapan resusitasi sebelum persalinan.
2.      Tes resusitasi bagian suction dan aliran O2 untuk memastikan dapat berfungsi dengan baik.
3.      Tempatkan BBL di bawah lampu pemanas radiasi.
4.      Masukkan laryngoskopy untuk memvisualisasi trachea untuk menghisap mekonium.
5.      Intubasi dengan endotracheal untuk mengeluarkan mekonium dari jalan nafas bawah.
6.      Berikan stimulasi taktil pada telapak kaki atau punggung bayi.
7.      Monitor respirasi.
8.      Lakukan auskultasi untuk memastikan vetilasi adekuat.

DP II. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi / hiperventilasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pola nafas menjadi efektif.
NOC : Status respirasi : Ventilasi
Kriteria hasil :
1. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.
2. Ekspansi dada simetris.
3. Tidak ada bunyi nafas tambahan.
4. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen jalan nafas
Intervensi :
1.      Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender.
2.      Pantau status pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
3.      Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi.
4.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alan bantu nafas
5.      Siapkan pasien untuk ventilasi mekanik bila perlu.
6.      Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
DP III. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan pertukaran gas teratasi.
NOC : Status respiratorius : Pertukaran gas
Kriteria hasil :
1. Tidak sesak nafas
2. Fungsi paru dalam batas normal
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen asam basa
Intervensi :
1) Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
2) Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
3) Pantau hasil Analisa Gas Darah
DP IV. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan risiko cidera dapat dicegah.
NOC : Pengetahuan : Keamanan Anak
Kriteria hasil :
1. Bebas dari cidera/ komplikasi.
2. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak.
3. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama.
Keterangan Skala :
1 : Tidak sama sekali
2 : Sedikit
3 : Agak
4 : Kadang
5 : Selalu
NIC : Kontrol Infeksi
Intervensi :
1.   Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah merawat bayi.
2.   Pakai sarung tangan steril.
3.   Lakukan pengkajian fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan pembuluh darah tali pusat dan adanya anomali.
4.   Ajarkan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada pemberi pelayanan kesehatan.
5.   Berikan agen imunisasi sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin hepatitis B bila serum ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag), antigen inti hepatitis B (Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).
DP V. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suhu tubuh normal.
NOC I : Termoregulasi : Neonatus
Kriteria Hasil :
1. Temperatur badan dalam batas normal.
2. Tidak terjadi distress pernafasan.
3. Tidak gelisah.
4. Perubahan warna kulit.
5. Bilirubin dalam batas normal.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Perawatan Hipotermi
Intervensi :
1.   Hindarkan pasien dari kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
2.   Monitor gejala yang berhubungan dengan hipotermi, misal fatigue, apatis, perubahan warna kulit dll.
3.   Monitor temperatur dan warna kulit.
4.   Monitor TTV.
5.   Monitor adanya bradikardi.
6.   Monitor status pernafasan.
NIC II : Temperatur Regulasi
Intervensi :
1. Monitor temperatur BBL setiap 2 jam sampai suhu stabil.
2. Jaga temperatur suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
3. Tempatkan BBL pada inkubator bila perlu.
DP VI. Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan koping keluarga adekuat.
NOC I : Koping keluarga
Kriteria Hasil :
1. Percaya dapat mengatasi masalah.
2. Kestabilan prioritas.
3. Mempunyai rencana darurat.
4. Mengatur ulang cara perawatan.
Keterangan skala :
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan
NOC II : Status Kesehatan Keluarga
Kriteria Hasil :
1. Status kekebalan anggota keluarga.
2. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan.
3. Akses perawatan kesehatan.
4. Kesehatan fisik anggota keluarga.
Keterangan Skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Pemeliharaan proses keluarga
Intervensi :
1. Tentukan tipe proses keluarga.
2. Identifikasi efek pertukaran peran dalam proses keluarga.
3. Bantu anggota keluarga untuk menggunakan mekanisme support yang ada.
4. Bantu anggota keluarga untuk merencanakan strategi normal dalam segala situasi.
NIC II : Dukungan Keluarga
Intervensi :
1. Pastikan anggota keluarga bahwa pasien memperoleh perawat yang terbaik.
2. Tentukan prognosis beban psikologi dari keluarga.
3. Beri harapan realistik.
4. Identifikasi alam spiritual yang diberikan keluarga.
F.      EVALUASI
DP I. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
NOC I
Kriteria Hasil :
1. Tidak menunjukkan demam.(skala 3)
2. Tidak menunjukkan cemas.(skala 3)
3. Rata-rata repirasi dalam batas normal.(skala 3)
4. Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.(skala 3)
5. Tidak ada suara nafas tambahan.(skala 3)

NOC II
Kriteria Hasil :
1. Mudah dalam bernafas.(skala 3)
2. Tidak menunjukkan kegelisahan.(skala 3)
3. Tidak adanya sianosis.(skala 3)
4. PaCO2 dalam batas normal.(skala 3)
5. PaO2 dalam batas normal.(skala 3)

DP II. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi.
Kriteria hasil :
1. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.(skala 3)
2. Ekspansi dada simetris.(skala 3)
3. Tidak ada bunyi nafas tambahan.(skala 3)
4. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.(skala 3)

DP III. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Kriteria hasil :
1. Tidak sesak nafas.(skala 3)
2. Fungsi paru dalam batas normal.(skala 3)
DP IV. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
1.      Bebas dari cidera/ komplikasi.(skala 4)
2. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak.(skala 4)
3. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama.(skala 4)

DP V. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
NOC I
Kriteria Hasil :
1. Temperatur badan dalam batas normal.(skala 3)
2. Tidak terjadi distress pernafasan. (skala 3)
3. Tidak gelisah. (skala 3)
4. Perubahan warna kulit. (skala 3)
5. Bilirubin dalam batas normal. (skala 3)
NOC II
Kriteria Hasil :
1. Status kekebalan anggota keluarga. (skala 3)
2. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan. (skala 3)
3. Akses perawatan kesehatan. (skala 3)
4. Kesehatan fisik anggota keluarga. (skala 3)
DP IV. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada agen-agen infeksius.
NOC I
Kriteria Hasil :
1. Percaya dapat mengatasi masalah. (skala 3)
2. Kestabilan prioritas. (skala 3)
3. Mempunyai rencana darurat. (skala 3)
4. Mengatur ulang cara perawatan. (skala 3)
NOC II
Kriteria Hasil :
1. Status kekebalan anggota keluarga. (skala 3)
2. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan. (skala 3)
3. Akses perawatan kesehatan. (skala 3)
4. Kesehatan fisik anggota keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika
Mochtar. R. 1989. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.
Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : Prima Medika.
Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Criteria Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC
Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC
Saifudin. A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Straight. B. R. 2004. Keperawatan Ibu Baru Lahir. Edisi 3. Jakarta : EGC

Selasa, 23 Maret 2010

Keep Your Skin Free From Acne

Almost everyone has acne at some point in their life, & everybody will agree that it is no fun. Regrettably, some people experience acne that is more extreme than the occasional pimple or blackhead. It is feasible to take preventative measures & it is important to find treatment options that work for your. The following editorial will give you advice on the way you can find treatments & what you can do to prevent acne outbreaks.



 of the first things you ought to do is set up a lovely skin care technique. You need to wash your face two times a day, morning & night. Select a face wash that is targeted for those with acne. You also need to discover a toner that will take the excess oils & debris off of your face. Next you ought to moisturize your face. There's also moisturizers that are lovely for those with acne. You ought to take these steps each & every day, in the morning & before bed. Be cautious, though, not to over wash your face. This can irritate it, causing even more acne.


There's some preventative things you can do to keep acne at bay. thing you can do is learn to keep away from or deal with stresses in your life. Some stresses are not avoidable, so it is best to learn to deal with them in a positive manner. There's some stresses that you can avoid & you ought to try to do that. Stress is known to cause acne, so learning to keep away from or control your stress can help prevent acne.



Another thing you can do to prevent acne is to keep things off of your face. Anything that touches your face has the potential to cause pimples or blackheads. You ought to keep your hands, clothes & hair off of your face as much as you can. The things that do touch your face, such as your glasses, sun shades & cell phone, ought to be cleaned regularly.



Since your pillow case touches your face, change it regularly. Your pillow case touches your face for several hours each time you sleep so it is important that it is as neat as feasible since it can harbor dirt, debris & bacteria that you do not need on your skin. Change your pillow case every to days & that ought to be helpful.



In the event you feel like you have honestly tried for several weeks to control your acne, & you have not seen any improvement, it might be time to consult a dermatologist. This skin doctor can give you more options & possibly prescribe a medication for you to take by mouth, or to put on your skin.



Acne care is an ongoing technique. In the event you are willing to be consistent together with your acne care, it is possible for you to to either get rid of your acne, or at least cut down on the occurrences of it. Use the knowledge above & wait & see, & you will notice positive changes.

Jumat, 01 Januari 2010

askep bblr




 


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian perinatal neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah. (Mochtar, 1998).
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight baby ( bayi dengan berat lahir rendah = BBLR ), karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi premature.
Menurut data angka kaejadian BBLR di Rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1986 adalah 24 %. Angka kematian perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70 % dan 73 % dari seluruh kematian di sebabkan oleh BBLR ( Prawirohardjo, 2005 )
Melihat dari kejadian terdahulu BBLR sudah seharusnya menjadi perhatian yang mutlak terhadap para ibu yang mengalamai kehamilan yang beresiko karena dilihat dari frekuensi BBLR di Negara maju berkisar antara 3,6 – 10,8 %, di Negara berkembang berkisar antara 10 – 43 %. Dapat di dibandingkan dengan rasio antara Negara maju dan Negara berkembang adalah 1 : 4 ( Mochtar, 1998 ).

1
 
Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental.
Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.

1.2  TUJUAN PENULISAN
Adapun yang menjadi tujuan penulisan adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian BBLR.
2.      Untuk mengetahui penyebab BBLR.
3.      Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan dan perawatan pada bayi BBLR.
4.      Untuk mengetahui Tanda-tanda Klinis pada BBLR.



 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1  DEFINISI
Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir).
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.
BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB 2500 gram/ lebih rendah (WHO 1961)
Ada dua macam BBLR yaitu :
  1. Prematuritas murni / Bayi yang kurang bulan ( KB / SMK ): bayi yang dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.
  2. Dismaturitas / Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)/Bayi kecil masa kehamilan ( KMK ) : bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari persentie ke-10 kurva pertumbuhan janin dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.. Sedangkan Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ).
Penggolongan derajat prematuritas bayi
  1. Bayi yang sangat prematur (extremly prematur)
a)      24 – 30 mg gestasi
b)      Masa gestasi 24-27 mg masih sukar hidup terutama dinegara yang blm maju.
c)      Masa gestasi 28-30 mg mgk dapat hidup dengan perawatan intensif yang memerlukan alat-alat canggih untuk mencapai hasil yang optimum
d)     BB 500-1400 gram
e)      0,8% seluruh kelahiran hidup
f)       Hampir seluruh kematian neonatal dan defisit neurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir
g)      Penampilan: kecil, tidak memiliki lemak, kulit sangat tipis
  1. Bayi dg derajat prematur sedang (moderatly prematur)
a.    Gestasi 31-36 mg
b.   Kesanggupan hidup jauh lebih baik dari yang pertama
c.    Gejala sisa yang dihadapi kemudian hari ringan bila pengelolaan bayi intensif
d.   BB >1500 gram – 2500 gram
e.    6%-7% seluruh kelahiran hidup
f.    Penampilan: kulit tipis, lipatan pada kaki lebih sedikit, banyak rambut halus, genetalia kurang berkembang
  1. Borderline prematur
a.    Masa gestasi 37mg
b.   Mempunyai sifat prematur dan matur
c.    Biasanya berat seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur
d.   Kadang timbul problem yang dialami seperti bayi prematur seperti sindroma gawat napas, hiperbilirubinemia, refleks isap lemah
e.    Perlu penanganan lebih seksama
Prosentase Kematian
a.    Gestasi kurang dari 24 mg : umumnya meninggal
b.   Gestasi 27-28 minggu: survive 50%
c.    Gestasi 29 minggu: survive 80%
d.   Gestasi 30 minggu: survive 85%

2.2  ETIOLOGI
Penyebab bayi lahir premature :
a)   Faktor Ibu :
1.      Faktor penyakit (toksemia gravidarum, trauma fisik,DM,infeksi akut, psikologis dll)
2.      Umur ibu pada dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dan pada multigravida Jarak kelahian terlalu dekat
3.      Social ekonomi : Malnutrisi dan antenatal yang kurang
b)   Faktor janin
1.      Hydroamnion
2.      Kehamilan multiple/ganda
Penyebab bayi lahir dismature :
1.      Faktor ibu
a)   penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hipertensi
b)   Ibu DM berat
c)   Hipoksia ibu (penyakit paru kronis, hemoglobinopat, tinggal di pegunungan)
d)  Malnutrisi
e)   Bahan teratogonik ( alcohol, radiasi, obat )
2.      Faktor uterus dan plasentak: kelainan pembuluh darah, insersi tali pusat yang tidak normal, sebagian plasenta lepas, infark plasenta dll
3.      Faktor janin: kehamilan ganda, kelainan kromosom, infeksi dalam kandungan (TORCH)
4.      Faktor sosek

2.3  TANDA–TANDAKLINIS
Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
a)      Prematuritas murni
1.      BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
2.      Masa gestasi < 37 minggu
3.      Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
4.      Lanugo banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
5.      Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
6.      Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
7.      Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
8.      Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
9.      Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah
10.  Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik
11.  Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna
b)      Dismaturitas
1.      Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
2.      Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
3.      Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
4.      Tali pusat berwarna kuning kehijauan

2.4  PROBLEMATIK BBLR
Dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomis maupun fisiologis maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut ini :
1.      Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yag bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif,produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
2.      Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan kekurangan surfactan(rasio lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah yang tulang iga yang mudah melengkung(pliable thorak)
3.      Penyakit gangguan pernafasan yang sering pada bayi BBLR adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumoni.
4.      Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi, distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi lemak, laktosa,vitamin yang larut dalam lemakdan bebberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter kardio esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi asspirasi.
5.      Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.
6.      Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, urea clearence yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan airtubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan asidosis metabolik.
7.      Perdarahan mudahbterjadi karena pembuluh darah yang rapuh(fragile), kekurangan faktor pembekuan seperti protrombine, faktor VII dan faktor christmas.
8.      Gangguan imunologok, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahya kadar Ig G gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi masih belum baik
9.      Perdarahan intraventrikuler, lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi BBLR sering menderita apnea,asfuksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Luasnya perdarahan intraventrikuler
10.  Retrolental Fibroplasia : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi(PaO2 lebih dari 115 mmHg : 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru kedaerah yang iskemi sehingga terjadi perdarahan, fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga bayi menjadi buta. Untuk menghindari retrolental fibroplasia maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak boleh lebih dati 40%. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter permenit.

2.5  PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a)      Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia
b)      Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan
c)      Titer Torch sesuai indikasi
d)     Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi
e)      Pemantauan elektrolit
f)       Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax )

2.6  PENATALAKSANAAN
a)       Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator
b)       Pelestarian suhu tubuh
Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C.
Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal.
Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram
c)      Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.
d)       Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan

e)      Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit.
f)       Pemberian makanan
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.

2.7  PROGNOSIS
Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501- 2500 gram adalah 95 %, tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih mempunyai angka kematian yang tinggi. Kematian diduga karena displasia bronkhopulmonal, enterokolitis nekrotikans, atau infeksi sekunder.
BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2 tahun pertama akan mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati bayi cukup bulan dengan berat sesuai masa gestasi.  Pada BBLR , makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi, makin besar kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan neurologik.

2.8  MEMULANGKAN BAYI
Sebelum pulang bayi sudah harus mampu minum sendiri, baik dengan botol maupum putting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badan berkisar antara 10 – 30 gram / hari dan suhu tubuh tetap normal diruang biasa. Biasanya bayi dipulangkan dengan berat badan lebih dari 2000 gram dan semua masalah berat sudah teratasi.

2.9  PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
1.   Riwayat Maternal
a.       Umur ibu dalam resiko kehamilan ( < 16 thn atau > 35 thn)
b.      Kehamilan ganda ( gemeli)
c.       Status ekonomi rendah, malnutrisi dan ANC kurang
d.      Adanya riwayat kelahiran prematur sebelumnya
e.       Infeksi: TORCH, penyakit kelamin dll
f.       Kondisi kehamilan: toksemia gravidarum, KPD, plasenta previa dll
g.      Penggunaan Narkoba, alkohol, rokok
2.   Riwayat Kelahiran
a.       Gestasi : 24- 37 minggu
b.      BB : < 2500 gram
c.       APGAR SKORE
3.   Sistem kardiovaskuler
a.       HR : 120-160 x/menit
b.      Saat lahir mungkin terdapat murmur: indikasi adanya shunt ke kiri dan tekanan paru yang masih tinggi atau adanya atelektasis
4.   Sistem gastrointestinal
a.       Abdomen menonjol
b.      Pengeluaran mekonium: 12-24 jam
c.       Refleks hisap lemah, koordinasi mengisap dan menelan lemah
d.      Anus: paten, jika tidak pertanda kelainan kongenital
e.       Berat badan kurang 2500(5lb 8 oz).
5.   Sistem integumen
a.       Kulit: pucat, sianosis, ikterik, kutis marmorata atau kemerahan
b.      Kulit tipis, transparan, halus dan licin
c.       Verniks caseosa sedikit dengan lanugo banyak
d.      Terdapat edema umum atau lokal
e.       Kuku pendek
f.       Rambut sedikit dan halus
g.      Garis tangan sedikit dan halus
6.   Sistem muskuloskeletal
a.       Tulang rawan telinga (Cartilago ear) belum berkembang, telinga halus dan lunak
b.      Tulang kepala dan tulang rusuk lunak
c.       Reflek kurang dan letargi
7.   Neuroensori
Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Edema kelopak mata umum terjadi, mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi).
Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan, dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37.
8.   Pernafasan
Skor apgar mungkin rendah. Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur; pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt).  Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi, menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS).
9.   Keamanan
Suhu berfluktuasi dengan mudah. Menangis mungkin lemah.Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedoneum. Kulit kemerahan atau tembus pandang, warna mungkin merah. muda/kebiruan, akrosianosis, atau sianosis/pucat. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh.
Ekstremitas mungkin tampak edema.
Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak. Kuku mungkin pendek.
10.     Seksualitas
Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.

B.     DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1.      Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler
2.      Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan
3.      Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur.
4.      Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
5.      Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan (imaturitas saluran cerna).
6.      Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler
7.      Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia
8.      Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
9.      Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
10.  Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif
11.  Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan

C.    RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
No.
Dx. Keperawatan
Tujuan
Perencanaan
1.
Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuro muscular
Pola nafas efektif. Kriteria Hasil :
·     RR 30-60 x/mnt
·     Sianosis (-)
·     Sesak (-)
·     Ronchi (-)
·     Whezing (-)
1.   Observasi pola Nafas.
2.   Observasi frekuensi dan bunyi nafas
3.   Observasi adanya sianosis.
4.   Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.
5.   Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.
6.   Beri O2 sesuai program dokter
7.   Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.
8.   Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.
9.   Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.
2
Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan

Pertukaran gas adekuat
Kriteria :
·     Tidak sianosis.
·     Analisa gas darah normal
·     Saturasi oksigen normal.
1.   Lakukan isap lendir kalau perlu
2.   Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
3.   Observasi warna kulit
4.   Ukur saturasi oksigen
5.   Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
6.   Lapor dokter apabila terdapat  tanda-tanda perburukan pernafasan
7.   Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
8.   Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan

3
Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur.

Suhu tubuh kembali normal.Kriteria Hasil :
·      Suhu 36-37C.
·      Kulit hangat.
·      Sianosis (-)
·      Ekstremitas hangat
1.   Observasi tanda-tanda vital.
2.   Tempatkan bayi pada incubator.
3.   Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan.
4.   Monitor tanda-tanda Hipertermi.
5.   Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh.
6.   Ganti pakaian setiap basah.
7.   Observasi adanya sianosis.
4
Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ktidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Hidrasi baik
Kriteria:
·     Turgor kulit elastik
·     Tidak ada edema
·     Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jm
·     Elektrolit darah dalam batas normal
1.      Observasi turgor kulit.
2.      Catat intake dan output
3.      Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit
4.      Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah


5.

Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi (Imaturitas saluran cerna)

Nutrisi terpenuhi setelahKriteria hasil :
·     Reflek hisap dan menelan baik
·     Muntah (-)
·     Kembung (-)
·     BAB lancer
·     Berat badan meningkat 15 gr/hr
·     Turgor elastis.
1.   Observasi intake dan output.
2.   Observasi reflek hisap dan menelan.
3.   Beri minum sesuai program
4.   Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada.
5.   Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral.
6.   Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral
7.   Kaji kesiapan ibu untuk menyusu.
8.   Timbang BB setiap hari.
6

















 

7


















Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler












Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia
















Perfusi jaringan baik
·     Tekanan darah normal
·     Pengisian kembali kapiler <2 detik
·     Akral hangat & tak sianosis
·     Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jm
·     Kesadaran composmentis

Tidak ada injuri,Kriteria:
·     Kesadaran composmentis
·     Gerakan aktif dan terkoordinasi
·     Tidak ada kejang ataupun twitching
·     Tidak ada tangisan melengking
·     Hasil USG kepala dalam batas normal
1.      Ukur tekanan darah kalau perlu
2.      Observasi warna dan suhu kulit
3.      Observasi pengisian kembali kapiler
4.      Observasi adanya edema perifer
5.      Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium
6.      Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan












1.      Cegah terjadinya hipoksia
2.      Ukur saturasi oksigen
3.      Observasi kesadaran dan aktifitas bayi
4.      Observasi tangisan bayi
5.      Observasi adanya kejang
6.      Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi
7.      Ukur lingkar kepala kalau perlu
8.      Kolaborasi dalam pemeriksaan USG kepala









8.
Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi)
Infeksi tidak terjadi.Kriteria Hasil :
·      Suhu 36-37C
·      Tidak ada tanda-tanda infeksi.
·      Leukosit 5.000-10.000
1.   Kaji tanda-tanda infeksi.
2.   Isolasi bayi dengan bayi lain.
3.   Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
4.   Gunakan masker setiap kontak dengan bayi.
5.   Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.
6.   Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril.
7.   Kolaborasi dengan dokter.
8.   Berikan antibiotic sesuai program.

9
Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobili.sasi.
Gangguan integritas kulit tidak terjadi Kriteria hasil :
·     Suhu 36,5-37 C
·     Tidak ada lecet atau kemerahan pada kulit.
·     Tanda-tanda infeksi (-)
1.   Observasi vital sign.
2.   Observasi tekstur dan warna kulit.
3.   Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic.
4.   Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
5.   Jaga kebersihan kulit bayi.
6.   Ganti pakaian setiap basah.
7.   Jaga kebersihan tempat tidur.
8.   Lakukan mobilisasi tiap 2 jam.
9.   Monitor suhu dalam incubator.
10.
Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif
Persepsi dan sensori baik
Kriteria :
·  Bayi berespon terhadap stimulus

1.      Membelai bayi sebelum malakukan tindakan
2.      Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut
3.      Memberikan rangsang cahaya pada mata
4.      Kurangi suara monitor jika memungkinkan
5.      Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot

11.
Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan orang tua dan kondisi krisis.
Cemas berkurang Kriteria hasil :
·      Orang tua tampak tenang
·      Orang tua tidak bertanya-tanya lagi.
·      Orang tua brpartisipasi dalam proses perawatan.
1.   Kaji tingkat pengetahuan orang tua
2.   Beri penjelasan tentang keadaan bayinya.
3.   Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya.
4.   Berikan support dan reinforcement atas apa yang dapat dicapai oleh orang tua.
5.   Latih orang tua tentang cara-cara perawatan bayi dirumah sebelum bayi pulang.




 
BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental
Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang
berdasarkan study kasus BBLSR dengan Asfiksia pada By. Y di Ruang Perinatologi/Dahlia RSUD Kardinah Tegal, ditemukan beberapa masalah keperawatan yaitu :
1.      Gangguan pertukaran O2 berhubungan dengan Imaturitas sistem pernafasan
2.      Gangguan Thermoregulasi: Hipertermi berhubungan dengan cairan yang diperoleh/sediaan cairan dalam tubuh bayi
3.      Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Imaturitas sistem pencernaan.
4.      Gangguan rasa aman : Cemas Orang tua berhubungan dengan proses hospitalisasi.
5.      Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan imaturitas sistem imunologrendah, dan gangguan lainnya.



 
DAFTAR PUSTAKA


1.      A.H Markum. (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
2.      Persis Mary Hamilton. (1999). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta: EGC.
3.      Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.
4.      Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
5.      Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
6.      Berhman, Kliegman & Arvin. (1996). Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Alih Bahasa : A. Samik Wahab. Jilid 1. Jakarta : EGC.
7.      Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke dua.Bandung : FKU Padjadjaran.
8.      Irianto, Kus. Drs. 2004. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya.
9.      Laksman, Hendra, T. Dr. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambaran.
10.  Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta : EGC.
11.  Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
12.  Prawirohardjo, Sarwono, DR. dr. SpOG 2005, ILMU KEBIDANAN. Jakarta YBP-SP
13.  Shelov, Steven P dan Hannemann, Robert E. 2004. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. The American Academy Of Pediatrics.Jakarta : ARCAN.
14.  Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2002. Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta : FKUI.
15.  Supartini, Yupi, S.Kep, MSc. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
16.  Tambayong, Jan. Dr. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
17.  www.Medicine and linux.com
18.  www. Pediatric.com


 
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Ilahi Robbi, atas berkat rahmat dan  hidayah-Nya, para penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk pengetahuan tentang BBLR.
Dalam menyusun makalah ini para penulis menyadari banyak kekurangan  yang tampak.Begitupun dengan istilah-istilah di dalam makalah ini terkadang  sedikit rancu. Untuk itu para penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang  membangun demi perbaikan penulisan makalah selanjutnya.
Mudah-mudahan makalah ini dapat di gunakan bagi para pembaca. Para penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu  dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan  taufik dan hidayahnya kepada kita semua. Amien……..





Cirebon, 26  Oktober  2009


Penyusun




 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................          i
DAFTAR ISI..............................................................................................        ii
BAB I . PENDAHULUAN
A.    Latar belakang.........................................................................        1
B.     Tujuan......................................................................................       2
BAB II. PEMBAHASAN
1.1 ... Definisi.................................................................................        3
1.2  .. Etiologi.................................................................................        3
1.3  .. Faktor Plasenta.....................................................................        4
1.4 ... Faktor Janin..........................................................................        4
1.5  .. Tanda-tanda Klinis...............................................................        4
1.6  .. Problematik BBLR...............................................................        5
1.7  .. Pemeriksaan Diagnostik.......................................................         6
1.8  .. Penatalaksanaan...................................................................        7
1.9  .. Prognosis..............................................................................        8
1.10  Memulangkan Bayi..............................................................           8
2.1  .. Pengkajian............................................................................        9
2.2  .. Diagnosa yang Mungkin Muncul.........................................          10
2.3 ... Rencana Tindakan Keperawatan..........................................        11
BAB III....................................................................................................... PENUTUP
A.    Kesimpulan..............................................................................        13